Kapitalisme Ibarat Gurita
Sebuah SMAN di desa Kadawung Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang Jawa Barat harus jadi korban kapitalis sebuah perusahaan peternakan sapi. Perusahaan yang lokasinya berdampingan persis dengan sekolah tersebut sangat menggangu proses kegiatan belajar mengajar. Mengingat bau kotoran sapi yang tertiup angin sepoi menusuk ke setiap hidung para siswa yang sedang menggali ilmu. Dampak lain yang dirasakan Nasdi salah seorang petani pemilik sawah merasakan panen padi yang biasanya beruntung setelah ada limbah kotoran sapi yang mengaliri sawahnya terkena dampak gagal panen. Kegagalan Rasdi juga dirasakan para petani lain sekitar 30 Ha sawah milik mereka dirugikan. Setelah diperhatikan penyebabnya lahar kotoran sapi yang mengandung zat beracun.
Sewaktu zaman kolonial Belanda kejadian aneh seperti di SMA I Pabuaran ini lazim bahkan bila perlu anak-anak diperintahkan belajar di tengah kandang sapi agar hasilnya bodoh tak beradab. Bila kita bicara hari ini setelah kemerdekaan diraih puluhan tahun silam masihkah harus bertanya siapa yang salah dan siapa yang dipersalahkan antara pendidikan dan peternakan yang berbau kapitalis. Kalau hal ini terjadi maka seekor gurita memakan korban.
Hasil penelusuran penulis seputar kejadian ini bisa ibarat permainan tarik tambang atau ibarat gurita yang siap memakan apapun yang ada di hadapannya dan permaianan tarik tambang saling adu kuat dan tentu harus ada yang kalah. Kejadian ini membutuhkan kebijakan Pemerintah Daerah yang sudah tahu persis melalui Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) mengacu pada perencanaan. Permainan ini akan segera ditelusuri sehinggga titik tertentu akan dapat disimpulkan.
Dari awal berdiri perusahaan ini banyak menuai kontroversi. Sebuah permainan yang dipertontonkan adanya putusan repaksi yang diatur perusahaan tidak disesuaikan dengan hasil laboratorium. Mestimya hasil repaksi penerimaan barang yang diterima pabrik sesuai dengan repaksi hasil laboratorium. Namun yang terjadi setiap pemasok barang berupa dedak, atau singkong yang sudah jelas dinilai kurang atas nama repaksi perusahaan memutuskan harga seenak udelnya. Banyak pengusaha pemasok makanan sapi berteriak namun teriakan itu dianggap gonggongan tak berarti. Dari kapitalisme buatan PT AJK membuahkan Tanda Tanya besar dan masih banyak masalah lain yang sulit dipecahkan yaitu limbah kotoran sapi. Selain mendatangkan bau yang tidak sedap juga limbah itu mengganggu produksi pertanian bahkan merugikan para petani yang sawahnya teraliri limbah kotoran sapi.
Manusia dibumi ini berhak bernapas untuk menghirup udara segar ternyata hak itu direnggut ditukar guling dengan bau kotoran sapi yang menyesakkan dada dari kotoran sapi yang merusak system sirkulasi udara yang dibutuhkan oleh mahluk hidup dan harus menahan sesaat jika bau itu menusuk hidung, padahal lazimnya manusia wajib bernapas dengan wajar.
Belum lagi jika kandungan udara kotor, masuk kedalam tubuh manusia pasti dampaknya akan besar bagi kesehatan. Memang sampai saat ini belum ada yang mati karena menghirup udara yang tercemari kotoran sapi tetapi haruskah menunggu ada korban mati gara-gara menghirup udara yang tercampur kotoran sapi. Lalu siapa yang harus berbuat anda, saya atau siapa….?
Sampai hari ini belum ada pihak yang bertanggung jawab dan berani tampil menyelesaikan masalah ini. Beberapa kali masalah ini didengar oleh Wakil Rakyat di DPRD Subang dan beberapa kali mereka berkunjung ke kandang sapi, namun berkunjung hanya sekedar berkunjung. Mereka tidak berani menunjuk hidung atau menunjuk apa saja, yang menjadi sumber permasalahan. Menyedihkan memang, apalagi ketika pihak SMAN 1 Pabuaran berteriak meminta relokasi dari dekat kandang sapi melalui Camat Pabuaran dan Ketua Komite Sekolah untuk memfasilitasinya.
Dan terjadilah komitmen yang membuat resah untuk mencari jalan keluarnya, dan sepakat bahwa SMAN 1 Pabuaran akan direlokasi. Muncullah masalah baru, siapa yang ditugaskan dari pemerintah untuk merelokasi SMAN 1 Pabuaran, jawabannya….? Tidak ada….lalu darimana dana relokasi ini disiapkan, katanya ada dana Rp.500 juta dari Perusahaan…Entah bagaimana noktah kesepahaman itu dibuat dan seperti apa bentuknya…..jawabannya Tidak jelas… !!!
Kemudian bagaimana rencana konfrehenship agar relokasi ini tidak menjadi beban anggaran PEMDA, yang artinya menjadi beban rakyat Subang. Entah siapa yang bodoh dalam masalah ini, wacana yang muncul adalah bahwa SMA yang berdekatan dengan kandang sapi akan diganti dengan SMK Peternakan. Pertanyaannya adalah apakah siswa SMK Peternakan bukan manusia yang tidak perlu menghirup udara segar dan apakah siswa SMK Peternakan nanti hanya belajar peternakan tentang sapi karena dekat dengan kandang sapi dan tidak perlu belajar Bahasa, Matematika, Agama dan pelajaran lainnya yang tidak berhubungan dengan sapi dan sebetulnya mereka tidak perlu berdampingan dengan kandang sapi. Apakah juga pengajar SMK Peternakan bisa bertahan nafas untuk sesaat demi sesaat karena bau tai sapi. Kenapa ada lagi anggaran pengadaan tanah yang disetujui oleh DPRD Subang, pihak sekolah tidak tahu menahu soal relokasi. Bila rencana 3 tahun selesai diperkirakan 2 tahun proses pembangunan sekolah itu artinya selama belum selesai relokasi para siswa harus bertahan dengan bau kotoran sapi.
Belum lagi permasalahan lainnya, air limbah yang mengalir ke pesawahan menyebabkan area pertanian rusak sehingga petani harus menanggung kerugiannya. Bagaimana sebenarnya pengolahan limbah kandang sapi ini tapi sayangnya tidak diijinkan oleh PT AJK untuk memasuki area kandang sapi dengan alasan yang dibuat-buat yaitu privasi ya…privasi, inventaris public, dan segudang alasan yang disampaikan kepada pihak yang akan berusaha memasuki area perusahaan. Sekilas memang masalah ini seolah tertumpu di perusahaan kandang sapi. Setelah ditelaah dengan seksama ternyata ini buruknya penataan dan perencanaan daerah kabupaten Subang. Tunjuk hidung mereka dan harus ada yang bertanggung jawab karena korban telah berjatuhan (siswa dan para petani). Anggota DPRD Subang harus jeli melihat permasalahan ini lebih mendalam, kalian adalah wakil rakyat yang terhormat. Jangan mau menjatuhkan martabat, terlibat konsfirasi dengan eksekutif yang telah nyata merugikan rakyat.
Dalam kata-katanya yang disampaikan pada penulis ,seseorang mengajak mencari tahu siapa eksekutifnya, dececion maker jangan sampai kami menyesal memilih wakil rakyat untuk urang Subang. Kalau betul relokasi terjadi itu artinya korban berdirinya kandang sapi, kalau sudah ada korban kita cari tahu siapa pelakunya ! Korban telah berjatuhan kembalikan kepada hati nurani bergerak segera, tindak pelakunya atau terlibatlah jadilah opurtunity konsfirasi dengan mereka dan anda bisa kaya (mungkin)
Jika satu hari tidak ditanggapi…
Dua hari tidak ditindaklanjuti…
Seminggu tidak berarti…
Sebulanpun demikian
Awas kiamat sudah dekat !!!
Kami berdo’a dan kami berbuat, sebiasa kami bisa tapi tiada upaya jika tuhan yang beri bencana namun ketika manusia menyalip tuhannya bahwa manusia juga bisa membuat bencana untuk manusia lain. Yaa Tuhanku…
Kuserahkan ini padaMu
Titin, Siswi SMAN I Pabuaran
Bau tai sapi menurut orang dianggap biasa karena mereka hanya sepintas, tapi kalau saya setiap hari harus berjumpa dengan tai sapi dan menghirup bau yang tidak sedap itu setiap hari. Makanya saya sangat terganggu dengan adanya kandang sapi yang berdampingan dengan sekolah saya.
Wandi, Siswa SMAN I Pabuaran
Bau tai sapi sangat mengganggu proses belajar mengajar, dan juga masyarakat sekitar juga terganggu. Saya ingin relokasi sekolah secepat mungkin apakah sekolah yang pindah atau perusahaan.
Nasdi, Petani korban limbah sapi
Dampak kotoran limbah beracun itu sudah mengaliri pesawahan petani antara 18 sampai 30 Ha. Dan hal ini terus bertambah apalagi di musim penghujan. Setiap sawah yang terkena aliran limbah kotoran sapi pasti jadi tidak baik mengingat tanaman padi tidak cocok dengan kotoran sapi.
Hidayat, Komite SMAN I Pabuaran
Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama relokasi itu terwujud karena harapan kita semua dari masyarakat.
Dadang Rosada, Wakasek SMA I Pabuaran
Luas sekolah SMAN I Pabuaran sekitar 1800 M3 disamping SMA Gema Nusantara untuk relokasi. Pihak sekolah sudah melakukan koordinasi dengan perusahaan agar relokasi dilakukan segera mengingat tuntutan masyarakat dan para petani yang dirugikan senantiasa mendesak.
Ujang Sonjaya Kepsek SMAN I Pabuaran
Bangunan SMAN I Pabuaran kalau ditinggalkan masih milik Pemerintah dan bangunan itu yang membangun Pemerintah Daerah. Hibah 500 juta bukan milik sekolah tapi diberikan kepada pemerintah daerah langsung. Proses pembangunan SMA baru dilokasi tanah yang dihibahkan dari PT AJK ke Pemda, namun kenada ada lagi anggaran yang disetujui DPRD Subang. Untuk itu pihak sekolah tidak tahu menahu soal relokasi bila rencana merelokasi selama 3 tahun dan bisa selesai diperkirakan 2 tahun itu akan lebih baik mengingat sudah ada anggaran untuk pendidikan tahun anggaran 2011, pertama SMPN Pagaden dan kedua SMAN I Pabuaran walaupun belum disetujui anggarannya baru akan dirapatkan. “Relokasi tanah dan bangunan di Bangkuang sudah diberikan oleh PT AJK ke Pemda Subang senilai 500 juta” , kata Ujang
Kepala Desa Salam Jaya
Saya sudah koordinasi dengan PT AJK, masyarakat kami kena imbas kotoran limbah sapi yang membuat mereka para petani gagal panen. Bila satu minggu tidak segera membuat saluran air ke pesawahan warga, maka saluran air akan diarahkan ke arah timur. Setelah ada negoisasi mudah-mudahan tidak saling merugikan antara perusahaan dan para petani.
Gunawan Camat Pabuaran
Usulah dari Komite Sekolah dan SMAN I Pabuaran mengusulkan ke Pemda untuk relokasi tapi syukur alhamdulillah memang sudah ada respon dari PT AJK hanya waktu yang belum disa ditentukan realisasinya. Respon bagus masih dalam pembicaraan. PT AJK memberikan tanah sebagai ruislag untuk pembangunan SMAN I Pabuaran. Sekolah lama akan digunakan untuk SMK Peternakan dan masyarakat Pabuaran diuntungkan karena ada dua lembaga pendidikan di kecamatan Pabuaran.(Narasumber penulis:LSM Lira Subang)./Drs.Akam S
